Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hukum Hari Valentine's Day Boleh atau Tidak Boleh (Haram) Dalam Islam?

 Hari Valentine dikenal sebagai hari kasih sayang. Hari yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 14 februari ini menjadi hari yang ditunggu oleh pasangan-pasangan baik yang sudah menikah maupun muda-mudi yang masih pacaran. Salah satu tradisi yang dilakukan adalah saling memberikan bunga dan cokelat ke setiap pasangannya. Tidak hanya itu saja, di beberapa tempat, hari ini diselenggarakan secara besar-besaran melalui festival yang meriah. Popularitasnya yang begitu besar pasti telah memicu perdebatan di kalangan umat Islam dan jelas timbul sebuah pertanyaan yaitu, Apakah hari Valentine itu boleh dirayakan atau haram dalam Islam?. Berikut tomatalikuang.com bagikan jawaban dari pertanyaan ini.

hukum hari valentine day dalam islam haram tomatalikuang.com


4 Alasan Mengapa Hari Valentine Day Haram

4 alasan utama mengapa hari Valentine dianggap haram adalah:

  1. Merayakan Hari Valentine Meniru Perayaan Non-Muslim
  2. Kisah Asal Usul Hari Valentine Mempromosikan Praktek Haram
  3. Islam Mempromosikan Mengekspresikan Cinta Antara Pasangan Sepanjang Waktu, Tidak Hanya Dalam Satu Hari
  4. Meskipun Banyak Orang Merayakan, Hal Itu Belum Tentu Boleh dalam Islam


#1 Merayakan Hari Valentine Meniru Perayaan Non-Muslim

Sebagian besar Muslim menganggap haram hukumnys untuk merayakan acara-acara non-Islam seperti Natal atau tahun baru karena tidak sesuai dengan keyakinan umat Islam .

Hal ini dengan merujuk pada hadits berikut :

Dari Ibn Umar beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Dawud, hasan)

Syekh Muhammad Salih al-Munajjid, salah seorang ulama, menjawab pertanyaan “Apa hukumnya merayakan hari Valentine?”

Inilah yang beliau katakan:

Pertama :

..Festival ini berhubungan dengan orang suci yang dikenal sebagai Valentine yang dijatuhi hukuman mati pada 14 Februari 270 M. Orang kafir masih merayakan festival ini, di mana amoralitas dan kejahatan dipraktikkan secara luas.

kedua:

Tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk merayakan salah satu hari raya kaum kafir, karena hari raya termasuk dalam masalah syar'i yang didasarkan pada nash-nash (ayat Al-Qur'an dan Hadist Rasulullah SAW) .

Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Hari raya adalah bagian dari syariat, yang Allah berfirman (yang artinya):

“Untuk masing-masing di antara kamu, Kami telah menetapkan hukum dan jalan yang jelas” [al-Maa'idah 5:48]

“Untuk setiap umat Kami telah menetapkan upacara keagamaan yang harus mereka ikuti” [al-Hajj 22:67]


2. Sejarah Hari Valentine Mempromosikan Praktek Haram

Hari Valentine didasarkan pada kisah "Saint Valentine" atau Santo Valentine yang dieksekusi pada 14 Februari 270 M. Santo adlaah orang beriman pria yang telah meninggal dan dipercaya Gereja telah melihat Allah secara langsung di surga.  Di sejarah Roma kuno, hari raya Lupercalia dirayakan pada tanggal 15 Februari setiap tahun. Lupercali identik dengan perayaan seks, kekerasan, dan hari kesuburan Pagan.

Perayaan hari Valentine dimulai pada abad ke-4 SM untuk menghormati dewa mereka Lupercus. Acara utama di hari Valentine adalah mengadakan undian yang membagikan wanita muda kepada pria muda untuk “hiburan dan kesenangan” hingga undian tahun berikutnya.

Perayaan ini kemudian berubah menjadi hari Valentine.

Roma terus merayakan acara ini sampai setelah mereka menjadi Kristen.

Oleh karena itu umat Islam menganggap perayaan hari Valentine sebagai Haram karena asal mula bagaimana Valentine muncul mempromosikan perzinahan dan hubungan bebas dan dengan logika itu, umat Islam tidak boleh mengambil bagian dari perayaan itu karena bertentangan dengan ajaran Islam.

Selain itu, kegiatan khas yang terkait dengan Hari Valentine bukanlah kegiatan-kegiatan religius yang dilakukan. Berikut beberapa aktivitas klasik yang terjadi selama Hari Valentine:

  • Nyanyian
  • Musik
  • Zina
  • Minum-minuman keras

3. Islam Menganjurkan Mengekspresikan Cinta Antara Pasangan Sepanjang Waktu, Tidak Hanya Dalam Satu Hari

Islam menganjurkan pasangan untuk saling mencintai setiap hari. Tidak ada kitab suci dalam Al-Quran atau Hadist yang menyatakan bahwa umat Islam harus menunjukkan cinta dan emosi yang signifikan pada hari tertentu.

Menunjukkan cinta kepada keluarga dan teman Anda secara teratur atau setiap waktu sangat dianjurkan dalam Islam.

Berikut hadits yang menjelaskan lebih lanjut.

Jika seorang pria mencintai saudaranya, biarkan dia mengatakan kepadanya bahwa dia mencintainya. (Abu Dawud, 5124; al-Tirmidzi, 2329)

Demi Dia yang jiwaku ada di tangan-Nya! Kamu tidak akan masuk Jannah sampai kamu beriman, dan kamu tidak akan beriman sampai kamu saling mencintai. Bolehkah saya memberi tahu Anda tentang sesuatu, jika Anda melakukannya, Anda saling mencintai. Ucapkan salam di antara Anda (dengan mengatakan As-salamu 'alaikum satu sama lain)” (Diriwayatkan oleh Muslim)


4. Meskipun Semua Orang Melakukannya, Itu Belum Tentu Benar

Poin penting di bagian ini, kita tidak bisa langsung menyimpulkan suatu hal boleh dilakukan meskipun banyak orang yang merayakan.

Ada orang bijak yang berkata, “Jika temanmu melompat dari jembatan, maukah kamu?”. Ini adalah situasi yang sama dengan hari valentine ini. Ketika teman atau keluarga disekelilingmu merayakan hari valentine, apakah kamu langsung ikutr-ikutan merayakannya?.

Tentu, Masuk akal untuk menganalisis dan memahami mengapa Anda merayakan atau mengambil bagian dalam suatu acara. Dalam hal ini, orang merayakannya sebagai ungkapan cinta tetapi kebanyakan orang tidak memahami asal-usul peristiwa itu dan bagaimana dampak setelah merayakannya.


Mengapa Ada Muslim yang Tetap Merayakan Hari Valentine?

Beberapa Muslim terus merayakan Valentine sampai hari ini karena berbagai alasan.

Beberapa berada di lingkungan yang tidak memahami asal-usul perayaan ini dan menganggap bahwa itu tidak memiliki asal-usul yang tidak bersalah.

Sementara yang lain tidak menyadari asal-usul hari Valentine tetapi hidup dalam budaya barat di mana hari Valentine menjadi budaya mereka.

Terakhir, ada orang yang mengklaim bahwa niat mereka sebenarnya bukan untuk merayakan "Santo Valentine" sendiri atau untuk melanjutkan perayaan seks kaum Pagan, melainkan hanya untuk menunjukkan rasa sayang ke pasangannya dengan cara merayakan hari valentine.


Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, meskipun terdapat perbedaan dalam merayakan hari valentine, tentu adalah hal yang penting untuk tidak menghakimi orang lain atas tindakan / perbuatan mereka. Sebagai seorang Muslim, lebih baik jika kita menasihati teman dan keluarga dan membimbing mereka daripada menghakimi mereka.

Karena ada dasar yang kuat untuk mengklasifikasikan Hari Valentine sebagai hari yang haram, tetapi harus juga kita sadari bahwa bukan tugas kita sebagai Muslim untuk menghakimi orang lain! dan hanya Allah SWT yang bisa menilai kita dari tindakan dan niat kita! Wallahu A'lam Bissawab.

Posting Komentar untuk "Hukum Hari Valentine's Day Boleh atau Tidak Boleh (Haram) Dalam Islam?"